Saur “butet” Marlina Manurung (mengabdi di jalan sunyi)

g15866_u13120_butet_di_hutan

Neng Butet! Bolehlah perempuan Batak bernama Saur Marlina Manurung itu, disapa demikian? Maklumlah, beberapa tahun ia sempat menetap di tatar Sunda, sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran, Jatinangor, sebelum memutuskan hidup di belantara hutan di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Propinsi Jambi, sekitar 225 km dari Kota Jambi ke arah barat.

Sebelumnya, orang tak begitu mengenal sosoknya. Namun, pemunculannya dalam sebuah iklan surat kabar nasional di layar kaca, orang kerap panasaran dibuatnya. Bagaimana tidak, di usianya yang terbilang muda, lajang satu ini justru memilih hidup di kawasan pedalaman yang dihuni Suku Anak Dalam–orang banyak menyebutnya Suku Kubu. Tapi mereka lebih senang disebut Orang Rimba–Jambi, yang jauh dari hingar-bingar kehidupan kota.

“Kubu artinya bau, jorok, dan bodoh. Makanya, mereka sering marah jika disebut Suku Kubu. Mereka lebih senang bila dipanggil dengan sebuatan Orang Rimba,” kata Butet menjelaskan arti Kubu, saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, belum lama ini.

Pilihan yang sulit dimengerti dengan cara mengabdi di “jalan sunyi”. Tapi itulah hebatnya Butet. Ia memilih tugas mulia: Mengajar baca-tulis kepada bocah-bocah Suku Anak Dalam. Harapannya cuma satu. “Saya ingin meyakinkan mereka, bahwa bagaimanapun pendidikan dapat memproteksi mereka dari ketertindasan dunia luar,” katanya.

Cerita pilu masyarakat Orang Rimba cukuplah membuat Butet trenyuh. Mereka sering dijadikan objek penipuan orang-orang luar, terang Butet. Dengan sejumlah iming-iming, lahan mereka ditebang. “Tapi, akhirnya mereka justru tidak mendapatkan apa-apa,” ungkapnya.

Kondisi itulah yang justru menarik Butet untuk mengajari anak-anak Suku Anak Dalam membaca dan menulis. Terang Butet, ia mulai masuk kawasan hutan tersebut sejak tahun 1999. Sejak itulah mulai banyak dari mereka yang kini sudah bisa membaca, menulis dan menghitung. “Anak-anak di sana ada yang sudah bisa baca akta perjanjian, melakukan proses jual-beli dan menghitung,” terang Butet.

Inilah yang membuat Butet bahagia. Padahal, usaha untuk bisa meyakini kehadirannya di masyarakat Suku Anak Dalam, tidaklah mudah. Berkali-kali, kehadiran Butet ditolak, bahkan tidak segan-segan mereka mengusirnya. “Penolakan itu barangkali karena mereka punya pengalaman buruk,” katanya.

Alasan tersebut bisa dipahami Butet. Tapi, darah Batak yang mengalir dari tubuhnya, tak segera membuatnya menyerah. Secara sembunyi-sembunyi ia mengajar sejumlah bocah. Satu-satunya orang yang percaya akan kehadirannya adalah seorang bocah bernama Gentar. “Dia orang yang pertama kali percaya kepada saya. Dia juga yang meyakinkan anak-anak lainnya,” ungkapnya.

News_200505_pendidikan7Lama kelamaan, usaha untuk meyakinkan masyarakat Suku Anak dalam akhirnya berbuah. “Saya sempat disumpah. Saya juga sempat yakinkan mereka bahwa kehadiran saya di sana bukan untuk menyebarkan agama baru atau merusak hutan mereka,” ungkap anak sulung dari empat bersaudara itu.

Kesenangannya kepada kegiatan pencinta alam, justru yang membuat perempuan Batak kelahiran Jakarta 21 Februari 1972 jatuh cinta kepada belantara hutan kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Propinsi Jambi. Lima tahun lalu, ia mulai masuk-keluar hutan Bukit Dua Belas. “Keberadaan saya di Jambi, sebenarnya lebih karena kecelakaan saja. Tadinya saya ingin menetap di belantara hutan Irian,” terang Butet, tanpa merinci lebih jauh.

Nasib juga lah yang menggiringnya dikenal masyarakat luas. Dedikasi Butet dalam mencerdaskan anak-anak pedalaman mulai tampak jejaknya, ketika beberapa wartawan dan wartawati menemuinya di lokasi pedalaman Propinsi Jambi. “Waktu itu, dengan menggunakan motor trail, saya sempat menjadi penunjuk jalan mereka. Setelah sampai lokasi yang dituju, mereka baru sadar kalau saya ini perempuan. Kita ngobrol banyak. Ya, akhirnya oleh salah satu wartawati dari Kompas saya sempat dihubungi untuk dijadikan bintang iklan surat kabarnya,” katanya.

Satu tahun mengajar anak-anak Suku Anak Dalam, usaha Butet mendapat perhatian. Ia dianugerahi penghargaan Man and Biosfer yang diberikan LIPI bekerja sama dengan UNESCO pada tahun 2000.

Empat tahun kemudian, sejarah kembali terulang

Senin (8/3) anak dari pasangan Victor Manurung dengan Anar Tiur Samosir ini kembali dianugerahi penghargaan 1st antv Women of The Year Award untuk kategori bidang pendidikan. Menyisihkan Dra. Hj. Nurlaila Nuzulul Qur’any dan Ria Winanti, yang juga menjadi nomine kuat di kategori tersebut.

butetButet dianggap perempuan yang memiliki konsep pendidikan alternatif. Ia juga dianggap telah memberi manfaat bagi masyarakat di pedalaman. “Sebenarnya, saya risau menerima penghargaan semacam ini karena takut memunculkan banyak ekspektasi,” tuturnya.

Disinggung soal pola pendidikan semacam apa yang pas untuk anak Indonesia, dengan enteng Butet memberi jawaban singkat dan tak berbelit-belit. “Yang tepat guna,” katanya usai menerima penghargaan malam itu.

Apa yang dimaksud dengan tepat guna, tak lain adalah pendidikan yang bisa diterapkan dan disukai oleh anak-anak. “Anak-anak bisa memahami dan memanfaatkan ilmu yang telah didapatnya,” katanya.

Pola pendidikan yang dicoba diterapkan Butet kepada anak-anak di pedalaman Suku Anak Dalam, tentulah sangat berbeda dengan guru kebanyakan di tanah air. Dengarkan saja penuturannya. Ungkap Butet, pola belajar yang dikembangkan lebih mengikuti mood murid. “Kalau jam 12 malam mereka masih mood, ya kita terus saja jalan. Pokoknya, jam belajar tidak terbatas. Asalkan, tidak melupakan unsur bermain. Proses belajar-mengajar sekarang kebanyakan justru meninggalkan unsur bermain,” kata bu guru Butet, yang terinspirasi film petualangan Indiana Jones itu.

Selain menjadi guru, sewaktu-waktu Butet juga bisa menjadi murid. Banyak pelajaran yang ternyata bisa diperoleh dari mereka, seperti bagaimana mengenali jejak sampai mengobati secara tradisional. Hal-hal itulah yang tidak pernah didapatnya ketika masih sekolah maupun di perguruan tinggi.

Disinggung soal cita-citanya ke depan, Butet pun enggan muluk-muluk. Dengan enteng ia berharap bisa jadi konsultan pendidikan untuk anak-anak di suku pedalaman lainnya. “Saya ingin jadi konsultan bagi mereka yang peduli kepada pendidikan anak-anak di pedalaman,” katanya mantap.

sumber http://www.kompas.co.id/gayahidup/news/0403/14/053453.htm


Sekolah Untuk Kehidupan

g15866_u13119_foto_butet[1]April 2004, ketika ANTEVE memberi penghargaan “Women of the Year“ kepada perempuan bernama asli Saur Marlina Manurung ini, ia mulai santer dibicarakan. Apalagi ketika Oktober kemudian majalah TIME Asia menobatkannya sebagai salah satu “TIME Asia’s Heroes”, mata Indonesia pun terbuka.Butet lantas dipuji, disanjung dan ada pula yang mengklaim, Butet adalah Kartini jaman sekarang. Dan 5 Januari kemarin, ketika Butet mempresentasikan bukunya “SOKOLA RIMBA,” di ruang sidang perpustakaan Universitas Sumatra Utara, Selasa (5/2), ia disanjung lagi (bahkan) bagaikan selebritis.

Ya, Butet adalah sosok yang inspiratif dengan apa yang telah ia lakukan. Bahkan, seorang Presiden Susilo Bambang Yudoyono pun tak begitu saja menutup mata pada spirit kepahlawan Butet, perempuan kelahiran Jakarta, 12 Februari 1976 itu.

Dalam artikelnya, The Making of a Hero, yang diterbitkan di majalah TIME Asia, edisi 3 Oktober 2005, Presiden SBY mengawali tulisannya dengan kalimat: “Every society needs heroes. And every society has them. The reason we don’t often see them is because we don’t bother to look.” Setiap masyarakat membutuhkan figur pahlawan. Dan setiap komunitas sebenarnya memilikinya. Hanya saja kita sering mengabaikannya, itu karena kita sering menutup mata padanya.

Apa yang dilakukan Butet setidaknya juga telah menginspirasinya kembali untuk melahirkan “SOKOLA RIMBA”, buku “diary” yang ditulis Butet berdasarkan pengalamannya selama mengabdi di bagi komunitas Orang Rimba di pedalaman Bukit Dua Belas Jambi.

Buku setebal 250 halaman yang ia rangkum selama rentang waktu enam tahun ini, selain banyak bercerita dari sudut pandang Butet sebagai pendidik dengan berbagai tantangan yang dihadapinya, juga menceritakan kultur Orang Rimba yang kerap dianggap bodoh, miskin, primitif dan stereotip negatif lainnya.

“Padahal, mereka sebenarnya memiliki kehidupan sendiri yang sama sekali jauh dari stereotip itu,” kata Butet. “Orang sering menyebut mereka (Orang Rimba) Kubu, padahal arti Kubu sebenarnya memiliki kesan merendahkan,” jelas Butet lagi.

Di kalangan penduduk Jambi sendiri, kata “Kubu” selalu distereotipkan kepada komunitas yang dianggap terpinggirkan, bodoh, bau, primitif, (tidak modern). Karena “kebodohan” itu, komunitas Orang Rimba seringkali menjadi korban penipuan oleh pendatang-pendatang asing yang menganggap dirinya, pintar, modern, beradab, “manusia yang benar-benar manusia”.

Maka dalam pengabdiannya, Butet sebenarnya bukan hanya mengajari Orang Rimba membaca dan menulis, tapi juga turut membantu memecahkan persoalan yang selama ini sering mereka hadapi. Misalnya, bagaimana agar mereka sadar bahwa hutan yang mereka tempati harus dijaga kelestariannya, bagaimana juga agar mereka tidak kerap tidak berdaya menghadapi orang asing yang ingin menebang hutan mereka, dan persoalan sosial lainnya.

“Untuk menjaga kelestarian hutan, tak cukup hanya menyadarkan mereka bahwa hutan adalah tempat tinggal mereka, tapi juga perlu dibekali pengetahuan hukum agar mereka tidak mudah diperdaya pendatang asing yang ingin menebang hutan mereka,” kata Butet yang memiliki dua gelar sarjana, Sastra Indonesia dan Antropologi Unpad Bandung itu.

cover+depan

Dalam acara bedah buku yang juga dihadiri pembicara, Sofian Tan (YEL), Ryhta Tambunan dan Taufan Damanik dari Fakultas Antropolog FISIP USU dan Billy Khaeruddin (Kompas) itu, Butet juga menceritakan bagaimana ia merintis Yayasan SOKOLA yang telah berdiri sejak 2003.

Yayasan “SOKOLA” merupakan wadah pendidikan alternatif yang mencoba menjangkau komunitas-komunitas di Indonesia yang tidak terjangkau sekolah formal. Selain Jambi, beberapa wilayah yang telah dijangkau di antaranya Flores, Halmahera, Bulukumba, Aceh, Yogyakarta, Makassar, Klaten dan Kampung Dukuh. “Kami menyebutnya Sekolah untuk Kehidupan,” kata Butet.

Upaya Butet, sekali lagi, adalah upaya yang tidak mudah, setidaknya untuk memberikan perubahan kepada negara ini, khususnya di bidang pendidikan. Tak salah jika Butet disebut pahlawan, di saat bangsa ini memang membutuhkan sosok seperti dia. Maka, seperti kata SBY di akhir tulisannya tadi, “Perhaps there is a hero in all of us. We just need to look,” apa yang telah dilakukan Butet memang pantas kita beri apresiasi, pujian dan yang paling utama adalah dukungan.

Sisi lain Saur Marlina “Butet” Manurung

Mengambil keputusan hidup di hutan, bukan perkara mudah. Tidak semua orang bisa melakukannya. Tapi, buat Saur Marlina “Butet” Manurung, menjadi guru pendidikan alternatif bagi Orang Rimba yang dulu dikenal sebagai Suku Anak Dalam atau Kubu di Taman Nasional Bukit 12 dan Taman Nasional Bukit 30, Jambi, adalah pilihan tepat dalam hidupnya”

“Kalau ada yang tanya mengapa aku suka tinggal di hutan, justru aku akan tanya balik, mengapa orang-orang nggak suka tinggal di hutan? Padahal menurutku tinggal di hutan itu enak. Apa yang aku kerjakan saat ini adalah pekerjaan sempurna, kok pada nggak mau ya? Aneh.” Itulah jawaban yang diberikan wanita kelahiran Jakarta, 21 Februari 1972.

2039468418_66abbf6a79_mKeinginan Butet membuat komunitas sekolah alternatif “SOKOLA” yang sudah berjalan hampir 6 tahun ini berangkat dari niatnya yang tulus yaitu apa yang dilakukannya harus bisa berguna untuk orang lain tetapi tidak jauh dari konsep hidupnya yang ingin menjadi diri sendiri. “Jadi, bukan agar orang lain berpikir seperti itu pada kita, tapi keinginan itu murni dari diri sendiri sehingga hasilnya akan maksimal dan pasti akan berguna buat orang lain,” ungkap Butet yang meraih dua gelar kesarjanaan yaitu Antropologi dan Sastra Indonesia di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Ia sadar, konsep hidupnya memang agak sedikit egois. “Menurutku, aku harus mengerjakan apa yang aku suka, apa yang aku mau. Kalau ada orang yang berpikir apa-apa tentang aku, nggak perduli. Yang pasti aku hanya ingin apa yang aku lakukan itu bisa terwujud dan bisa berguna untuk orang lain.”

Anak Manja yang Menemukan Dunianya
Saur Marlina ”Butet” Manurung

Dulunya, Butet adalah pribadi yang tumbuh dari didikan manja papanya, Victor Manurung. Maklum, Butet adalah satu-satunya anak perempuan dari 4 bersaudara. Biarpun dimanja, Butet dididik mencintai alam dan tidak mementingkan diri sendiri. Kemanjaan itu terhenti saat Butet duduk di kelas 3 SMA, saat papanya meninggal. Kejadiaan itu membuat Butet sangat shock. Hampir setiap hari ia ke kuburan papanya dan menangis. Untunglah, teman sekolahnya mengajaknya naik gunung untuk mengalahkan egonya, belajar tidak manja, dan berempati pada orang lain.
Di situlah Butet jatuh cinta pada alam. Meskipun harus diseret-seret untuk sampai puncak gunung, Butet sangat menyukai pengalaman pertamanya ini. Yang akhirnya membuat Butet datang lagi dan datang lagi. Setiap ada waktu luang digunakan untuk naik gunung atau masuk ke hutan mulai dari Jambi, Irian Jaya, Sulsel, Timor, Sumbawa, hingga Lombok. Dalam petualangannya itu, ia belajar banyak hal, tentang diri sendiri dan hubungannya dengan teman. Ia juga banyak bertemu suku-suku dalam saat masuk ke daerah yang terpencil. Menurut Butet, masyarakat pedalaman umumnya memiliki masalah yang sama, yaitu lingkungan seperti pertambangan, illegal logging, atau penipuan- penipuan taukek.

butet2Dulu, Butet tidak pernah berfikir pada orang-orangnya, yang ia tahu ingin bekerja di alam bebas. Petualangannya di alam yang berlangsung mulai 1990-1998 membuatnya gelisah dan merasa berdosa sekali, karena tidak ada yang bisa disumbangkan. “Kalau aku cuma begini-begini melulu, berarti aku cuma nyedot dan nggak kasih apa-apa,” resahnya.
Sampai saat lulus di Antropologi 1998, Butet membaca pengumuman di sebuah harian nasional yang mencari relawan untuk hutan di Jambi, kegelisahannya terjawab sudah. “Masalah di jambi ternyata sangat dinamis. Suku-suku dalam di

Jambi sangat dekat dengan modernisasi kehidupan kota. Dan aku merasa harus membantu mereka,” jelasnya.
Sebelum mengabdikan diri di Jambi, Butet sempat bekerja dengan mengandalkan kemampuan Bahasa Inggrisnya. “Aku juga pernah bekerja menemani peneliti-peneliti di Ujung Kulon, tapi rasanya tidak jadi diri
sendiri. Gelisah dan sering marah-marah, bete pokoknya. Aku merasa normal ya kalau ke rimba.”
Sejak masuk di Jambi September 1999, jalan Butet mendekati orang rimba tidak mudah. Butuh 6 bulan untuk akhirnya bisa diterima. Butet malah tidak langsung mengajar tapi hanya ikut berburu dan bermain dengan orang rimba. “Aku malah nggak pernah berpikir ke arah pendidikan karena sebelumnya tidak pernah berkecimpung di situ. Pengalamanku mengajar privat organ membuatku tergerak memberi pendidikan pada anak-anak rimba.” Pada Mei 2000, mulailah Butet memberi pendidikan alternatif pada anak-anak rimba yaitu memberi pengetahuan baca, tulis dan berhitung.

Saur Marlina ”Butet” Manurung“Aku tidak pernah buat peraturan. Dan aku tidak pernah kasih nilai dan rangking.
Aku pun tidak punya buku penilaian siswa. Aku merasa tidak berhak untuk itu, mereka punya tata nilai sendiri karena mereka masyarakat adat”

Sistem pengajaran yang diberikan bukan seperti pendidikan nasional. Semuanya serba fleksibel. Apa yang
akan dipelajari ditentukan bersama-sama. Begitu juga
masalah waktu, bisa kapan saja, mulai pagi hingga malam. Tergantung permintaan anak-anak rimba. Jika, mereka bosan bisa berhenti kapan saja. Atau tiba-tiba ada yang ingin menggambar saat Butet mengajar berhitung, itu
sah-sah saja. “Aku tidak pernah buat peraturan. Dan aku
tidak pernah kasih nilai dan rangking. Aku pun tidak punya buku penilaian siswa. Aku merasa tidak berhak untuk itu, mereka punya tata nilai sendiri karena mereka masyarakat adat,” akunya.

antropolog_dodi_dan_anakanak_orang_rimbaTempat mengajar Butet di Jambi yaitu di hutan Taman Nasional Bukit 30 (sampai tahun 2003) dan hutan Taman Nasional Bukit 12 yang mempunyai luas 60.000 hektar. Suku-suku rimba di Jambi sekitar 1.300 orang yang hidup menyebar dan berpindah-pindah. Sekali mengajar di 1 kelompok kecil terdiri dari 11 kepala suku. Di satu lokasi paling ada 5 -10 anak. Butet selalu mencari kader -yang biasanya orang rimba yang bisa sedikit berbahasa Indonesia dan sabar serta punya misi yang sama. Setelah cukup bagus, Butet akan pindah ke kelompok lain dan kelompok yang ditinggalkan tetap melanjutkan belajarnya. “Sekali-kali aku akan cek,” katanya. Centre “SOKOLA” berada di sisi Barat Taman Nasional dan dari situ untuk mencapai satu lokasi ditempuh dalam waktu 5 – 7 jam, dengan berjalan kaki.
Empat tahun pertama, Butet memberikan pendidikan alternatif sendirian. Kini, ia dibantu 6 orang, dimana sejak 4 bulan terakhir terpecah-pecah, 2 di Aceh “Sekolah Survival/Life Skill”, 1 di Sekolah Pesisir Kampung Buyang Mariso-Makassar dan sisanya di Jambi yang disebutnya “Jungle School For Life”.

Kini, Butet sudah bisa tersenyum. Dengan ilmu yang ia berikan, orang rimba sudah mengerti bahwa hutan tempat mereka tinggal harus dipertahankan karena merupakan warisan leluhur mereka. Kepuasan tersendiri juga bagi Butet saat melihat muridnya bisa berhitung hasil penjualan rotan pada taukek. “Selain mengajar baca, tulis dan berhitung aku juga memberi pemahaman pada orang rimba, bahwa mereka punya hak untuk melarang atau bernegosiasi dengan orang yang ingin memanfaatkanhutan mereka. Mereka juga harus mulai belajar berkebun dan bertanam karena hutan semakin lama akan semakin habis. Aku senang mereka bisa menerapkan ilmu yang aku
ajarkan di kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Didukung Keluarga
Meskipun kurang mendapat tanggapan dari pemerintah dan masyarakat Jambi. Namun, Butet tak perduli dan tetap menjalankan program pendidikan alternatifnya untuk anak-anak rimba.
Tekadnya pun semakin kuat karena dukungan keluarga terutama mamanya Anar Tiur Samosir, yang juga mengambil S2 jurusan antropologi. “Dulu mama menghormati pilihanku, sekarang mama mengerti mengapa aku melakukan semuanya,” tuturnya. Kok bisa? Karena terdorong keinginan yang tinggi, pada tahun ke-3 Butet di rimba, mamanya tiba-tiba datang mengunjunginya. Seminggu hidup bersama orang rimba dan melihat langsung apa yang dikerjakan Butet di hutan membuat mamanya mengerti. “Butet memang jiwanya di sini, dan itu saya bisa lihat dari matanya yang berbinar-binar saat mengajar
anak-anak rimba,” ucap mamanya -seperti yang

6360_120487249316_120337084316_2400472_4122970_nSaur Marlina ”Butet” Manurungdiungkapkan Butet. “Mama sangat mengerti aku. Begitu pula saat aku berkeinginan ke Aceh pasca Tsunami. Meski mama nggak ingin anaknya memilih pekerjaan beresiko, tapi mama juga berpikir bagaimana kalau semua ibu berpikiran sama dengannya, mungkin nggak akan ada relawan yang ke Aceh,” tuturnya.
Berkat metode mengajarnya, Butet dianugrahi “The Man and Biosphere Award 2001″ dari LIPI-UNESCO, Yap Thiam Hin Award 2003, Radio SKY Female-Bandung 2003, dan anugerah Woman of the Year bidang pendidikan pada 2004 lalu. Keterkenalannya sekarang bukanlah menjadi tujuan utama, Butet bersedia diwawancarai karena
ia senang jika apa yang dilakukannya bisa menginspirasikan
orang, bahwa “mimpi itu nggak ada yang tidak mungkin!”.

Ia pun berharap akan lebih banyak lagi yang termotivasi untuk berkecimpung di dunia pendidikan utamanya untuk anak-anak marginal.

Butet sangat terbuka jika ada yang bergabung dengannya, terutama anak-anak muda. Dari diskusinya dengan banyak anak muda, ternyata banyak sekali yang memiliki visi dan misi yang sama dengannya. Hanya kadang, mereka tidak berani untuk memulai karena berbagai alasan seperti halangan karena orang tua atau karena perempuan sehingga berpikir-pikir dulu dalam bertindak. “Mumpung masih muda dan punya impian, saat itulah kamu harus memulai. Sebelum akhirnya menyesal dan sadar ternyata sudah berumur 70 tahun. Hidup cuma sekali, jangan takut untuk berbuat sesuatu. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya,” ucap Butet memberi semangat.
Benar juga, saat kita punya impian, kejar dan lakukan. Mulai saja, saat menemui kendala yakinlah akan selalu ada jalan keluarnya. Kalau pun nantinya hancur di tengah jalan, bukanlah akhir dari segala-galanya. Yang penting apapun yang terjadi kita sudah melakukan apa yang kita inginkan. sri rahayu

“Mumpung masih muda dan punya impian, saat itulah kamu harus memulai. Sebelum akhirnya menyesal dan sadar ternyata sudah berumur 70 tahun. Hidup cuma sekali, jangan takut untuk berbuat sesuatu. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya”

Alternatif Education Community
“SOKOLA”
Tel: +62-746-322894
Email: rumahsokola@yahoo.com
Dari : http://www.sayamagazine.com/?p=269

Tinggalkan Balasan